8 Fakta Unik Pemilu Di Seluruh Dunia

, , Leave a comment

Pemilu
Fakta Unik Pemilu Dunia via 7sitinjak.blogspot.co.id

Pemilihan umum (disebut Pemilu) adalah proses memilih orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu. Jabatan-jabatan tersebut beraneka-ragam, mulai dari presiden, wakil rakyat di berbagai tingkat pemerintahan, sampai kepala desa. Pada konteks yang lebih luas, dapat juga berarti proses mengisi jabatan-jabatan seperti ketua OSIS atau ketua kelas, walaupun untuk ini kata ‘pemilihan’ lebih sering digunakan.

Pemilu merupakan salah satu usaha untuk memengaruhi rakyat secara persuasif (tidak memaksa) dengan melakukan kegiatan retorika, hubungan publik, komunikasi massa, lobi dan lain-lain kegiatan. Meskipun agitasi dan propaganda di Negara demokrasi sangat dikecam, namun dalam kampanye pemilihan umum, teknik agitasi dan teknik propaganda banyak juga dipakaioleh para kandidat atau politikus selalu komunikator politik.

Fakta Unik Pemilu

1. Astronot Bisa Ikut Pemilu

Astronot Juga Bisa Ikut Nyoblos
Astronot Juga Bisa Ikut Pemilu via citizen6.liputan6.com

Para astronot yang sedang berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional diperbolehkan untuk memilih sejak tahun 1997, ketika itu para anggota parlemen Texas sudah membuat suatu ketentuan yang memungkinkan kotak suara yang aman untuk dikirim ke ruang angkasa oleh Mission Control di Houston, Texas. Setelah astronot menentukan pilihan mereka, kotak-kotak suara mereka yang adalah berupa file-file PDF yang berisi kertas suara yang akan mereka terima dalam email, dikembalikan ke bumi, di mana pegawai akan membuka dokumen yang sudah dikodekan dan menyerahkan hard copy dari surat suara astronot untuk dihitung.

2. Di Estonia, Rakyat Bisa Memberikan Suara Secara Online

Pemilu Secara Online
Pemilu Secara Online via www.republika.co.id

Sejak tahun 2005, Estonia sudah bisa menyajikan pemilihan umum secara online dan tidak perlu menunggu dalam antrean di TPS setempat. Meskipun saat itu memilih secara offline masih lebih populer, dan pada tahun 2015, lebih dari 30% pemilih Estonia memanfaatkan keuntungan dari sistem voting online. Sistem Estonia dapat dilaksanakan karena setiap warga negara menerima kartu ID yang dapat dipindai dan PIN, yang juga dapat digunakan untuk memenuhi sejumlah tanggung jawab sipil, mulai dari pengajuan pajak hingga untuk membayar denda perpustakaan. (Meskipun kartu ID Estonia dan PIN digunakan untuk mengkonfirmasi identitas dirinya pada saat hari pemilihan, suara itu sendiri dienkripsi, dan me-render-nya secara anonim.)

3. Ikut Pemilu Adalah Wajib di Australia

Ikut Pemilu itu Wajib Hukumnya
Ikut Pemilu itu Wajib Hukumnya via www.bbc.com

Setiap warga negara Australia yang berusia lebih dari 18 tahun diwajibkan oleh hukum untuk mendaftarkan diri dalam pemilihan umum. Siapa pun yang tidak muncul pada hari pemilihan didenda sebesar AU$20. Bila tidak membayar denda tersebut bahkan akan menambah denda hingga sebesar AU$180 dan dapat mengakibatkan tuntutan pidana.

4. Para Pemilih di Swedia dan Prancis Secara Otomatis Sudah Terdaftar

Semua Warga Negara Harus Berpartisipasi dalam Pemilu
Semua Warga Negara Harus Berpartisipasi dalam Pemilu via cdn.metrotvnews.com

Orang di Prancis dan Swedia tidak perlu pusing tentang waktu untuk pendaftaran menjelang hari pemilihan. Pemerintah otomatis mendaftarkan pemilih ketika mereka memenuhi syarat-di Perancis, yaitu setelah orang berusia 18. Swedia berdasarkan pada pendaftar pajak untuk membuat daftar warga yang memenuhi syarat.

5. India adalah Negara Yang Sangat Besar, Sehingga Pemilu Bisa berlangsung Berminggu-minggu

Pemilu di India
Pemilu di India via pekanbaru.tribunnews.com

India memiliki lebih dari 800 juta pemilih, yang membuatnya sebagai negara demokrasi terbesar di dunia. Dalam rangka mengakomodasi pemilih sebesar itu, pemerintah mengadakan pemilihan umum selama berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan. Yang terakhir pemilihan umum pada 2014, di mana warga negara India memilih 543 anggota parlemen, berlangsung selama sembilan hari yang terpisah-pisah dalam lima minggu.

6. Di Chile Pemilih Pria dan Wanita Dipisahkan Sampai Tahun 2012

Pemilu di Chile
Pemilu di Chile via www.voaindonesia.com

Dimulai pada tahun 1930-ketika wanita pertama diberi hak untuk memilih dalam pemilihan lokal di Chili-pria dan wanita menuju lokasi pemungutan suara yang terpisah. Saat itu, pendaftaran yang terpisah dibuat untuk mengakomodasi pemilih perempuan yang baru terdaftar, yang masih dilarang ikut pemilihan suara dalam pemilihan nasional. Kebiasaan yang memisahkan pria dan wanita pada hari pemilihan bertahan bahkan setelah hak pilih diberikan dalam pemilu nasional (dan pendaftaran pemilihan nasional digabungkan) pada tahun 1949. Enam puluh tiga tahun kemudian, pemerintah memutuskan bahwa pemungutan suara tidak harus dipisahkan oleh jenis kelamin; Namun, pemilihan suara yang terpisah masih banyak dilakukan.

7. Para Cendekiawan/Ahli di Selandia baru Tidak Boleh Bicara Pada Hari Pemilu

Stop Bicara di Hari Pemilu
Pemilu di Negara Selandia Baru via www.harianterbit.com

8. Ratu Inggris Berhak Memberikan Suara

Ratu Inggris Elizabeth
Ratu Inggris Elizabeth via internasional.metrotvnews.com

Tidak ada hukumnya di UK yang melarang Ratu Elizabeth II berpartisipasi dalam pemilu. Tetapi untuk menunjukkan seobjektif mungkin, ia umumnya tidak mengikuti pemilu. Menjelang referendum Juni 2016 yang lalu di Inggris mengenai keanggotaan Uni Eropa, juru bicara Istana Buckingham mengatakan kepada wartawan bahwa, “Sangatlah jelas konvensi di sini, bahwa ratu di atas politik … adalah konvensi bahwa keluarga kerajaan tidak memilih dalam pemilihan umum, dan ini merupakan perpanjangan dari konvensi itu. ”

 

 

Comments