Hari Pers Nasional 2017, 4 Tokoh Pers Inspiratif Muda Indonesia

, , Leave a comment

Hari Pers Nasional
Hari Pers Nasional 2017 via www.jurnas.com

Pers adalah kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan penerbitan berita atau informasi, baik melalui media cetak maupun elektronik. Pers sebagai alat komunikasi, menyuarakan dan menjadi corong kepentingan organisasi pergerakan nasional. Pers merupakan sarana yang sangat penting dalam menyebarluaskan informasi. Media pers yang berupa surat kabar dan majalah memiliki andil yang besar di dalam menyebarluaskan suara nasionalisme (kebangsaan) Indonesia. Penerbitan pers didukung oleh para golongan terpelajar yang berprofesi sebagai penulis, wartawan, atau penyiar berita. Bahasa cetak menjadi sarana penting dalam menumbuhkan semangat dan kesadaran nasional. Melalui pers, komunikasi dan penyebaran infomiasi lebih bebas, terbuka, dan dapat diakses oleh siapapun tanpa membedakan golongan dan kedudukan sosial ekonomi.

Dalam UU pers no 40 tahun 1999, Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan meyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia.

Seperti diketahui, Hari Pers Nasional jatuh pada 9 Februari 2017, berikut ini kami telah merangkum nama “4 Tokoh Pers Inspiratif Indonesia”. Mereka adalah tokoh besar di balik perkembangan pers Indonesia. Karenanya, penghargaan tertinggi patut diberikan kepada mereka dan seluruh insan pers Indonesia. “4Tokoh Pers Inspiratif Indonesia” yaitu:

1. Tirto Adhi Soerjo

Tirto Adhi Soerjo
Tirto Adhi Soerjo via www.wikiwand.com

Tirto Adhi Soerjo adalah perintis pertama surat kabar di Indonesia melalui “Medan Prijaji” yang didirikannya pada 1 Januari 1907 di Bandung. “Medan Prijaji” adalah surat kabar pertama berbahasa Melayu yang terbit di Indonesia. Sebelum ini, surat kabar yang terbit adalah surat kabar berbahasa Belanda yang tidak bisa diakses secara luas oleh masyarakat Indonesia. Melalui surat kabar yang didirikannya, Tirto Adhi Soerjo menyerukan bahwa rakyat Indonesia bukanlah masyarakat kelas bawah, seperti yang diserukan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Beliau menggunakan surat kabarnya untuk menyebarkan semangat nasionalisme dan menyatukan Indonesia dalam satu kesadaran bersama.

Kisah perjuangan dan kehidupan Tirto diangkat oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Buru dan Sang Pemula, pada 1973, pemerintah mengukuhkannya sebagai Bapak Pers Nasional. Pada tanggal 3 November 2006, Tirto mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres RI no 85/TK/2006.

2. Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad
Goenawan Mohamad via profilbos.com

Goenawan Mohamad lahir disebuah dusun nelayan didaerah kebudayaan jawa, di Karang Asem, Batang, Jawa Tengah pada 29 Juli 1941, ia suka mendengarkan siaran puisi RRI, juga sempat menerjemahkan penyair wanita Amerika, Emily Dickinson, pendidikan formal ia lalui di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, walaupun tidak selesai.

GM, begitu sapaan akrabnya, adalah pendiri Majalah Tempo. Ia seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis. Sikapnya yang kritis sempat membuatnya dimusuhi oleh pemerintahan Soeharto di era Orde Baru. Bahkan, Majalah Tempo sempat dihentikan penerbitannya di tahun 1994. GM adalah pria lulusan Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia. Ia juga sempat mempelajari ilmu politik di Belgia, dan menjadi nieman fellow di Harvard University. Goenawan Mohamad telah menggeluti dunia pers Indonesia selama lebih dari 30 tahun. Selama itu, telah banyak karya yang ia hasilkan, baik berupa kumpulan puisi maupun esainya yang terkenal luas di masyarakat, Catatan Pinggir. Hingga kini, ia masih aktif mengisi Catatan Pinggir di halaman belakang Majalah Tempo setiap minggunya.

3. Rosihan Anwar

Rosi Anwar
Rosi Anwar via www.tempo.co

H. Rosihan Anwar (lahir di Kubang Nan Dua, Sirukam, Kabupaten Solok, 10 Mei 1922 – meninggal di Jakarta, 14 April 2011 pada umur 88 tahun) adalah tokoh pers Indonesia, meski dirinya lebih tepat dikatakan sebagai sejarawan, sastrawan, dan budayawan. Rosihan merupakan salah seorang yang cukup aktif dalam menulis.

Beliau telah dikenal sebagai wartawan sejak zaman kolonial, Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi. Wartawan senior Indonesia yang tutup usia pada 14 April 2011 ini telah memberikan sumbangsih besar di dunia pers Indonesia. Beragam penghargaan di dunia jusnalistik –baik nasional maupun internasional- telah ”dikantongi”-nya. Salah satu yang terbaru yakni “Anugerah Kesetiaan Berkarya sebagai Wartawan” pada tahun 2005. Semasa hidupnya ia telah menulis sekitar 21 judul buku dan ratusan artikel di berbagai media nasional maupun internasional.

4. Najwa Shihab

Najwa Sihab
Najwa Sihab via wildanrenaldi.wordpress.com

Najwa yang akrab dipanggil Nana lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 16 September 1977, umur 36 tahun, Najwa adalah pembawa acara berita Metro TV. Antara lain menjadi anchor program berita prime time Metro Hari Ini dan program talk show Today’s Dialogue. Dan saat ini acara yang sangat menarik perhatian masyarakat adalah acara “Mata Najwa”.  Najwa adalah puteri kedua Quraisy Shihab, Menteri Agama era Kabinet Pembangunan VII. Nana menikah dengan Ibrahim Assegaf, dan sudah memiliki satu orang anak laki-laki yang akrab dipanggil Izzat 6 tahun.

Najwa adalah alumni Fakultas Hukum UI tahun 2000. Semasa SMA ia terpilih mengikuti program AFS, yang di Indonesia program ini dilaksanakan oleh Yayasan Bina Antarbudaya, selama satu tahun di Amerika Serikat. Merintis karier di RCTI, tahun 2001 ia memilih bergabung dengan Metro TV karena stasiun TV itu dinilai lebih menjawab minat besarnya terhadap dunia jurnalistik.

4 nama di atas hanyalah sebagian kecil dari sekian banyaknya nama wartawan yang tak henti-hentinya menginspirasi kita dan bangsa ini. Tanpa mereka, kita bagaikan katak dalam tempurung.

 

 

 

Comments